Web Site Hit Counters
page counter Pitrinusya here!
Pitrinusya here!
Salam! Saya Pitrinusya, mahasiswa yang cinta kucing dan berotak kanan. Senang naik sepeda, nyoret-nyoret, dan berkawan.

Yang datang dengan hantaman, akan susah pergi tanpa meninggalkan jejak.

Yang datang dengan kehangatan, akan susah pergi tanpa membuat beku.

Kamu datang, yang lain hilang. Saatnya kamu hilang, apakah yang lain akan datang?

Aku membenci pembubaran, aku membenci kebiasaan-kebiasaan yang mesti dipudarkan.

Jangan tanya tentang kenangan, mereka bukan untuk dirusak oleh kesan. Mereka subjektif, mereka milikku sepenuhnya.

Mungkin kamu bosan, kawan, saat aku begitu mengkhawatirkan akan bagaimana hidupku selanjutnya tanpa kalian. Ini pelajaran untukku, untuk tidak lagi begitu mencintai apa yang kutahu akan berakhir.

"Makhluk yang dianggap lemah bisa jadi adalah yang paling kuat. Begitulah sejarah menyaksikan jatuh bangun peradaban oleh wanita."
Felix Siauw (via annisaadejanira)
Wednesday, 30 May 2012
and little fairh, and pray, pray, pray.. then tawakkal :)

and little fairh, and pray, pray, pray.. then tawakkal :)

Tuesday, 29 May 2012
"kata-kata itu membangkitkan harapan, tapi yang benar-benar bisa membuat perubahan adalah tindakan.."
belindch (via belindch)
"Lama-lama orang males romantis karena entar disebut galau.
Males peduli takut disebut kepo.
Males mendetil takut dibilang rempong.
Juga, lama-lama generasi mendatang males berpendapat takut dikira curhat.
Males mengubah-ubah point of view dalam debat takut dibilang labil."
Sudjiwo Tedjo (via limapuluhrebuan)


Whatever they say about you, they don’t even know you..
(via rizkarahmanita)

Reflection: Tuan Rawa dan Dua Pengelana.

Dua orang sedang berkelana dalam rawa-rawa. Mereka tak tahu apa yang mengancam mereka. Bisa saja dahan mati yang menyerupai cengkram nenek sihir di sebelah kiri mereka. Bisa saja setiap bongkah batu berlumut yang sedari tadi mereka langkahi. Bisa saja suara-suara sendu yang mereka menebak-nebak cemas darimana asal bunyinya; makhluk yang kasat mata atau hanya senda gurau angin saja.

Semakin jauh mereka berjalan, semakin kencang keanehan yang mereka rasakan. Sedari awal mereka sudah merasa asing. Mereka makin rindu pada sengatan panasnya matahari, dan mulai muak pada dingin aneh rawa tersebut.

Tapi mereka harus maju, mereka harus mencari jawaban. Mereka akan mengunjungi Tuan Rawa; penguasa rawa ini, untuk mendapatkan kebenaran. Tak peduli jarak dan upaya yang melantakkan semangat dan fisik, mereka bertekad maju terus.

Setelah melalui jam yang rasanya berusia bulan, hingga tahun terasa seperti abad; mereka mulai menyadari bahwa akhirnya Tuan Rawa akan membuka diri dan menyambut mereka perlahan. Tinggal satu atau dua langkah lagi untuk mendapatkan kebenaran tersebut. Semangat mereka terpompa! 

Tuan Rawa menyambut mereka di tempat perlindungannya, sebuah tanah lapang namun gersang. Ia sendiri, dan mereka berdua bisa melihat bagaimana kesendirian dan kesepian membuat Tuan Rawa seperti mayat hidup. Tuan Rawa ingin berbasa basi, tapi mereka berdua sudah tak tahan lebih lama dalam rawa tersebut, sehingga berkata cepat-cepat.

“Tuan Rawa, apa yang terjadi? Bisakah kau memberitahu kami?”

Tuan Rawa memandang kedua pengelana yang dulu temannya tersebut dengan pandangan yang multitafsir. Karena kedua pengelana dan beberapa kawannya-lah ia mengasingkan diri ke rawa yang dingin dan penuh ancaman jahat. Namun Tuan Rawa tahu bahwa ia juga merindukan alam luar sana, dan berkumpul bersama kedua pengelana beserta teman-temannya.

Tuan Rawa menjelaskan. Ia berbicara tanpa ada tanda-tanda akan berhenti. Kata demi kata bersusulan, memberitahu kedua pengelana tentang kebenaran yang mereka cari.

Akhirnya Tuan Rawa selesai. Ia diam dan menunduk dalam. Kedua pengelana yang seolah lupa bernapas mulai menghembuskan napasnya setelah penuturan Tuan Rawa habis. merka lalu mendekati Tuan Rawa. Mereka memeluknya. 

Seketika, tanah lapang tempat Tuan Rawa tinggal seperti ditelan cahaya. Begitu pekatnya, sampai tak ada bayang-bayang. Cahaya itu nyaris membutakan mereka, menyelimuti mereka sampai sesak. Perlahan-lahan akhirnya cahaya tersebut mereda, lalu bertahan. Mereka; kedua pengelana dan Tuan Rawa membuka mata.

Sebuah padang rumput hijau yang berkilauan oleh cahaya mentari. Seterang dunia nyata. Merka mengenali rasa angin dan udaranya. Tuan Rawa berubah menjadi persis seperti penampilan kedua pengelana. Akhirnya, mereka dapat berkelana bersama-sama kembali.

Kelanailah rawa-rawa penuh asumsi, namun bukan untuk menikamati, melainkan untuk mencari kebenaran yang sejati. Sebuah padang terang oleh kejujuran dari setiap helai rumputnya. Tabayyun! :D

 
1 of 58
Next page